THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 07 Mei 2010

Hujan Meteor Lyrids Mulai Turun

by DioN

Hujan Meteor Lyrids Mulai Turun

KAMIS, 15 APRIL 2010 | 12:22 WIB

(ilustrasi Meteor Lyrids)
TEMPO InteraktifBandung – Hujan meteor Lyrids akan turun mulai malam ini hingga 26 April 2010. Fenomena tahunan itu bisa disaksikan di seluruh Indonesia selepas tengah malam.
Menurut peneliti utama astronomi dan astrofisika di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, masa puncak hujan meteor terjadi pada 21-22 April. Saat itu, diperkirakan ada 10-20 meteor yang muncul setiap jam.
“Biasanya pada saat-saat tertentu terjadi lonjakan meteor, tapi tahun ini normal,” katanya, Kamis (15/4/2010). Meteor dari komet Tatcher tersebut mulai diketahui astronom sejak 2600 tahun lalu.
Hujan meteor itu akan turun dekat rasi Lyra. Letaknya berada di antara horison hingga atas langit sebelah timur laut. Dengan kondisi cuaca yang mulai memasukim musim kemarau, ditandai dengan hujan yang jarang turun, kata dia, kemungkinan besar hujan meteor itu bisa disaksikan tanpa dihalangi awan selepas pukul 01.00 dinihari hingga menjelang subuh.
Hujan meteor itu bisa disaksikan dengan jelas oleh penduduk bumi di belahan utara. Di Indonesia yang berada di khatulistiwa, kata astronom dari Observatorium Bosscha Evan Irawan Akbar, kemungkinan agak sulit dilihat. “Posisinya dekat horison, mungkin agak terhalang pepohonan,” katanya. Sebelum dan sesudah masa puncaknya, jumlah meteor yang jatuh diperkirakan hanya sebuah tiap jam.
(Ilustrasi : Meteor Lyrids)
Bagi para astronom, hujan meteor dari komet yang muncul tiap 415 tahun dekat bumi ini dianggap biasa. Hujan meteor itu berasal dari lapisan es komet yang mencair ketika orbitnya dekat dengan matahari. Partikel debu, es, dan batu yang terlepas itu terbakar di atmosfir sebelum jatuh ke bumi.
Menurut Evan, tahun ini ada 11 hujan meteor yang besar termasuk Lyrids. Setiap tahun, bumi disiram sekitar 25 ribu ton debu angkasa.
(Anwar Siswadi)

Matematika dan Bilangan Prima

Matematika dan Bilangan Prima

Bilangan prima adalah dasar dari matematika, termasuk salah satu misteri alam semesta. Tidak pernah terbayangkan oleh manusia sebelumnya, sampai ditemukan bahwa bilangan prima juga merupakan dasar dari kehidupan alam, yang dengan usaha keras ingin dijelaskan oleh ilmu ini dalam sains. Pandangan orang umumnya mengatakan bahwa matematika hanyalah penemuan manusia biasa. Sebaliknya, beberapa pemikir masa lalu – Pythagoras, Plato, Cusanus, Kepler, Leibnitz, Newton, Euler, Gauss, termasuk para revolusioner abad ke-20, Planck, Einstein dan Sommerffeld – yakin bahwa keberadaan angka dan bentuk geometris merupakan konsep alam semesta dan konsep yang bebas (independent). Galileo sendiri beranggapan bahwa matematika adalah bahasa Tuhan ketika menulis alam semesta.

Bilangan Prima dan Rencana Penciptaan

Salah satu teka-teki lama yang belum sepenuhnya terpecahkan adalah bilangan prima. Bilangan prima adalah bilangan yang hanya dapat habis dibagi oleh bilangan itu sendiri dan angka 1. Angka 12 bukan merupakan bilangan prima, karena dapat habis dibagi oleh angka lainnya 2, 3, dan 4. Bilangan prima adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, …. dan seterusnya. Banyak bilangan prima tidak terhingga. Tidak peduli berapa banyak kita menghitung, pasti kita akan menemukan bilangan prima, walaupun mungkin makin jarang_ Hal ini menjadi teka-teki kita, jika kita ingat bilangan ini tidak dapat dibagi oleh angka lainnya. Salah satu hal yang menakjubkan, dalam era komputer kita memberikan kodetifikasi semua hal yang penting dan rahasia, di bank, asuransi, dan perhitungan-perhitungan peluru kendali, security system dengan enkripsi, dalam angka jutaan bilangan-bilangan yang tidak habis dibagi oleh angka lainnya. Ini diperlukan karena dengan penggunaan angka lain, kodetifikasi tadi dapat dengan mudah ditembus.
Fenomena inilah yang ditemukan ilmuwan dari Duesseldorf (Dr. Plichta), sehubungan dengan penciptaan alam, yaitu distribusi misterius bilangan prima. Para ilmuwan sudah lama percaya bahwa bilangan prima adalah bahasa universal yang dapat dimengerti oleh semua makhluk (spesies) berintelegensia tinggi, sebagai komunikasi dasar antarmereka. Bahasa ini penuh misteri karena berhubungan dengan perencanaan universal kosmos.
Bilangan lain yang perlu diketahui adalah sisa dari bilangan prima, yakni bilangan komposit, kecuali angka 1, yaitu 4, 6, 8, 9,10,12,14,15, …. dan seterusnya. Dengan kata lain, bilangan komposit adalah bilangan yang terdiri dari minimal dua faktor prima. Misalnya :
6 = 2 x 3 = 2 . 3
30 = 2 x 3 x 5 = 2 . 3 . 5
85 = 5 x 17 = 5 . 17
Selain itu, dikenal pula bilangan khusus, yang disebut prima kembar, yaitu bilangan prima yang angkanya berdekatan dengan selisih 2. Misalnya :
(3,5)
(5,7)
(11,13)
(17,19)
dan seterusnya.
Mayoritas ahli astrofisika juga percaya bahwa di alam semesta terdapat  “kode kosmos”  atau yang disebut cosmic code based on this order, yang dikenal juga sebagai Theory of Everything (TOE), yang artinya terdapat konstanta-konstanta alam semesta yang saling berhubungan berdasarkan perintah pendesain. Sekali perintah tersebut dapat dipecahkan, maka hal ini akan membuka pandangan sains lainnya yang berhubungan.
(Sumber : ForumSains.com)

Dasar Serat Optik

Konfigurasi Dasar Sistem Komunikasi Serat Optik


Akhir-akhir ini demand masyarakat akan kebutuhan komunikasi data sangat pesat. Yaitu mentransfer data dalam jumlah besar, membutuhkan keakuratan yang tinggi dan mampu menjaga kerahasian data tersebut. Keunggulan serat optik sebagai media transmisi terutama mampu meningkatkan pelayanan sistem komunikasi data, seperti peningkatan jumlah kanal yang tersedia, bandwidth yang lebar, kemampuan mentransfer data dengan kecepatan mega bit /second, terjaminnya kerahasiaan data yang dikirimkan, sehingga pembicaraan tidak dapat disadap, tidak terganggu  oleh gelombang elektromagnetik, petir atau cuaca.
Dalam Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) jenis kabel serat optik yang digunakan adalah Multimode Graded Index. Laser sumber gelombang optik dipilih LED. Pemilihannya disesuaikan dengan kepentingan sistem yang dirancang, agar dapat menghasilkan sistem yang lebih efektif dan optimal ditinjau dari nilai ekeonomi dan teknologinya. Sistem  ini mampu memberikan transmisi data dengan panjang lintasan sejauh 16 Km. Kecepatan transmisi yang mampu dicapai adalah bervariasi dari 300 baud, 600 baud, 1200 baud, 2400 baud, 4800 baud, 9600 baud dan 19200 baud yang sudah direkomendasikan oleh CCITT. Sedangkan kualitas transmisi dapat mencapai BER ( bit error ) 10 pangkat -8

Teknologi Serat Optik

Perambatan cahaya pada serat optik


Perambatan Sinar
Kabel serat optik sebagai media transmisi pada suatu sistem komunikasi didasarkan pada hukum Snellius untuk perambatan cahaya pada media transparan seperti pada kaca yang terbuat dari kuartz kualitas tinggi dan dibentuk dari dua lapisan utama yaitu lapisan  inti yang biasanya disebut core terletak pada lapisan yang paling dalam dengan indeks bias  n1 dan dilapisi oleh cladding dengan indeks bias n2 yang lebih kecil dari n1.
Hukum Snellius
Menurut hukum Snellius jika seberkas sinar masuk pada suatu ujung serat optik ( media yang transparan ) dengan sudut kritis dan sinar itu datang dari medium yang mempunyai indeks bias lebih kecil dari udara menuju inti serat optik ( kuartz murni ) yang mempunyai indeks bias yang lebih besar maka seluruh sinar akan merambat sepanjang inti (core) serat optik menuju ujung yang satu.
Dewasa ini ada 3 jenis serat optik yang populer pemamfatannya pada sistem komunikasi Serat Optik yaitu:
a.       Serat optik  Multimode Step Index
b.      Serat optik Multimode Graded Index
c.       Serat optik Singlemode Index

Pada single mode fiber, terlihat pada gambar bahwa index bias akan berubah dengan segera pada batas antara core dan cladding (step index). Bahannya terbuat dari silica glass baik untuk cladding maupun corenya. Diameter core jauh lebih kecil 10 mm) dibandingkan dengan diameter cladding, konstruksi demikian dibuat untuk mengurangi rugi-rugi transmisi akibat adanya fading. Single mode fiber sangat baik digunakan untuk menyalurkan informasi jarak jauh karena di samping rugi-rugi transmisi yang kecil juga mempunyai band frkuensi yang lebar. Misalnya untuk ukuran 10/125 mm, pada panjang gelombang cahaya 1300 nm, redaman maksimumnya 0,4 – 0,5 dB/km dan lebar band frekwensi minimum untuk 1 km sebesar 10 GHz.
Single mode fiber dapat juga dibuat dengan index bias yang berubah secara perlahanlahan (graded index).
b. Multimode Step Index Fiber
Serat optik ini pada dasarnya mempunyai diameter core yang besar (50 – 400 um) dibandingkan dengan diameter cladding (125 – 500 um). Sama halnya dengan single mode fiber, pada serat optik ini terjadi perubahan index bias dengan segera (step index) pada batas antara core dan cladding. Diameter core yang besar (50 – 400 um) digunakan untuk menaikkan effisiensi coupling pada sumber cahaya yang tidak koheren seperti LED. Karakteristik penampilan serat optik ini sangat bergantung pada macam material/bahan yang digunakan. Berdasarkan hasil penelitian, penambahan prosentase bahan silica pada serat optik ini akan meningkatkan penampilan (performance). Tetapi jenis serat optik ini tidak populer karena meskipun kadar silicanya ditingkatkan, rugi-rugi dispersi sewaktu transmit tetap besar, sehingga hanya baik digunakan untuk menyalurkan data/informasi dengan kecepatan rendah dan jarak relatif dekat.
c. Multimode Graded index
 Multimode graded index dibuat dengan menggunakan bahan multi component glass atau dapat juga dengan silica glass baik untuk core maupun claddingnya. Pada serat optik tipe ini, indeks bias berubah secara perlahan-lahan (graded index multimode). Indeks bias inti berubah mengecil perlahan mulai dari pusat core sampai batas antara core dengan cladding. Makin mengecilnya indeks bias ini menyebabkan kecepatan rambat cahaya akan semakin tinggi dan akan berakibat dispersi waktu antara berbagai mode cahaya yang merambat akan berkurang dan pada akhirnya semua mode cahaya akan tiba pada waktu yang bersamaan di penerima (ujung serat optik). Diameter core jenis serat optik ini lebih kecil dibandingkan dengan diameter core jenis serat optic Multimode Step Index, yaitu 30 – 60 um untuk core dan 100 – 150 um untuk claddingnya.
 Biaya pembuatan jenis serat optik ini sangat tinggi bila dibandingkan dengan jenis Single mode. Rugi-rugi transmisi minimum adalah sebesar 0,70 dB/km pada panjang gelombang 1,18 um dan lebar band frekwensi 150 MHz sampai dengan 2 GHz. Oleh karenanya jenis serat optik ini sangat ideal untuk menyalurkan informasi pada jarak menengah dengan menggunakan sumber cahaya LED maupun LASER, di samping juga penyambungannya yang relatif mudah.
Saat ini ada empat macam tipe yang sering digunakan berdasarkan ITU-T (International Telecommunication Union – Telecommunication Standardization sector) yang dahulu dikenal dengan CCITT yaitu :
  1.  G.652 – Standar Single Mode Fiber
  2.  G.653 – Dispersion-shifted single mode fiber
  3.  G.653 – Characteristics of cut-off shifted mode fiber cable
  4. G.655 – Dispertion-shifted non zero Dispertion fiber.

Tipe serat G.652 adalah tipe serat yang sering digunakan saat ini dan semua tipe dari tipe serat yang ada sekarang ini menyesuaikan dengan type G.652. Saat ini tipe dari jenis serat single mode ini dapat digunakan pada STM-1 (155 Mbit/s) untuk mencakup jarak lebih dari 1280 km tanpa menggunakan repeater (pengulang/penguat) dan pada STM 4 (622 Mbit/s) digunakan untuk jarak lebih dari 160 km dengan memakai amplifier fiber optik. Menurut ITU-T jarak yang dapat dicakup untuk STM 16 adalah sebesar 160 km, tetapi jarak tersebut hanya dapat dicapai dengan menggunakan post amplifier (penguat) optic dan pre-amplifier sedangkan untuk STM 64 jarak yang dapat dicakup adalah sebesar 40 – 80 km.

Konfigurasi Dasar Sistem Komunikasi Serat Optik

Sistem Komunikasi Serat optik terdiri dari 3 komponen utama yaitu:
a.       Transmitter berupa Laser Diode ( LD ) dan Light Emmiting Diode (LED)
b.      Media transmisi berupa serat optik
c.       Receiver yang merupakan detektor penerima digunakan PIN dan APD.

Transmitter

Transmitter terdiri dari 2 bagian yaitu :
  1. Rangkaian elektrik berfungsi untuk mengkonversi sinyal digital menjadi sinyal analog, selanjutnya data tersebut ditumpangkan kedalam sinyal gelombang optik yang telah termodulasi
  2. Sumber gelombang optik berupa sinar Laser Diode (LD) dan LED ( light emmiting diode ) yang pemakaiannya disesuaikan dengan sistem komunikasi yang diperlukan.
  • Laser Diode dapat digunakan untuk sistem komunikasi optik yang sangat jauh seperti Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) dan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO), karena laser LD mempunyai karakteristik yang handal yaitu dapat memancarkan daya dengan intensitas yang tinggi, stabil, hampir monokromatis, terfokus, dan merambat dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga dapat menempuh jarak sangat jauh. Pembuatannya sangat sukar karena memerlukan  spesifikasi tertentu sehingga harganyapun mahal. Jadi LD tidak ekonomis dan tidak efisien jika digunakan untuk sistem komunikasi jarak dekat dan pada trafik kurang padat.
  • LED  digunakan  untuk sistem komunikasi jarak sedang dan dekat agar sistem dapat ekonomis dan efektif karena LED lebih mudah pembuatanya, sehingga harganyapun lebih murah.
  • Pada gambar 2.2.1 dapat diilustrasikan karakteristik transfer dari LD dan LED dan menganalisanya bahwa setelah suatu harga tertentu dilampaui, dengan input yang sama ternyata daya output LD jauh lebih besar dari LED.

 Receiver
Receiver atau bagian penerima terdiri dari 2 bagian yaitu detektor penerima dan rangakaian elektrik
Detektor penerima berfungsi untuk mengkap cahaya yang berupa gelombang optik pembawa informasi, dapat berupa PIN diode atau APD (Avalance photo Diode) pemilihannya tergantung keperluan sistem komunikasinya.
  • Untuk komunikasi jarak jauh digunakan detektor APD yang dapat bekerja pada panjang gelombang 1300 nm, 1500 nm serta 1550 nm dengan  kualitas yang baik. Artinya detektor  APD mempunyai sensitivitas dan response yang tinggi terhadap sinar laser  LD  sebagai pembawa gelombang optik informasi.
  • Untuk komunikasi jarak pendek lebih efisien jika menggunakan ditektor  PIN diode, karena PIN baik digunakan untuk bit rate rendah dan sensitivitasnya tinggi untuk LED. Pada gambar 2.2.2. dapat diilustrasikan daerah kerja dari laser LD dan LED serta detektor APD dan PIN diode dan dapat dianalisis sebagai berikut:
  • Sumber cahaya LD terlihat memiliki daya lebih besar, stabil, konstan pada bit rate berapapun, sedangkan sumber cahaya LED mempunyai daya pancar yang lebih kecil dan pada bit rate 100 Mbps dayanya mulai menurun.
  • Detektor penerima PIN bereaksi baik pada bit rate rendah tetapi kurang sensitif bila bit rate dinaikan.
  • Detektor penerima APD lebih sensitif pada bit rate tinggi. Untuk transmisi jarak jauh diperlukan daya pancar yang lebih besar dan sensitifitas yang tinggi, sistem serat optik akan menggunakan laser LD sebagai sumber cahaya dan APD sebagai detektor penerima. Sedangkan untuk transmisi jarak dekat cukup digunakan LED sebagai sumber optik dan PIN sebagai ditektor penerima.
  • Rangkaian elektrik berfungsi untuk mengkonversi cahaya pembawa informasi terhadap data informasi terhadap data informasi yang dibawa dengan melakukan regenerasi timing, regenerasi pulse serta konversi sinyal elektrik ke dalam interface V.28 yang berupa sinyal digital dan sebaliknya
Atenuasi (Redaman)
Atenuasi adalah besaran pelemahan energi sinyal informasi dari serat optik yang dinyatakan dalam dB dan disebabkan oleh 3 faktor utama yaitu absorpsi, hamburan (scattering) dan mikro-bending. Gelas yang merupakan bahan pembuat serat optik biasanya terbentuk dari silicon-dioksida ( SiO2). Variasi indeks bias diperoleh dengan menambahkan bahan lain seperti titanium, thallium, germanium atau boron. Dengan susunan bahan yang tepat maka akan didapatkan atenuasi yang sekecil mungkin. Atenuasi menyebabkan pelemahan energi sehingga amplitudo gelombang yang sampai pada penerima menjadi lebih kecil dari pada amplitudo yang dikirimkan oleh pemancar.
Redaman/atenuasi serat optik merupakan karakteristik penting yang harus diperhatikan mengingat kaitannya dalam menentukan jarak pengulang (repeater), jenis pemancar dan penerima optik yang harus digunakan. Besarnya atenuasi atau rugi-rugi daya dinyatakan oleh persamaan berikut :

a. Absorpsi.
Absorpsi merupakan sifat alami suatu gelas. Pada daerah-daerah tertentu gelas dapat mengabsorpsi sebagian besar cahaya seperti pada daerah ultraviolet. Hal ini disebabkan oleh adanya gerakan elektron yang kuat. Demikian pula untuk daerah inframerah, terjadi absorpsi yang besar. Ini disebabkan adanya getaran ikatan kimia . Oleh karena itu sebaiknya penggunaan serat optik harus menjauhi daerah ultraviolet dan inframerah. Penyebab absorpsi lain adanya transmisi ion-ion logam dan ion OH. Ion OH ini ternyata memberikan sumbangan absorpsi yang cukup besar. Semakin lama usia suatu serat maka bisa diduga akan semakin banyak ion OH di dalamnya yang menyebabkan kualitas serat menurun.
b. Hamburan
Seberkas cahaya yang melalui suatu gelas dengan variasi indeks bias disepanjang gelas tadi, sebagian energinya akan hilang dihamburkan oleh benda benda kecil yang ada di dalam gelas. Hamburan  yang disebabkan oleh tumbukan cahaya dengan partikel tersebut dinamakan hamburan Rayleigh. Besarnya hamburan Rayleigh ini berbanding terbalik dengan pangkat empat dari pangjang gelombang cahaya yaitu : 1/ λ  . Sehingga dapat disimpulkan untuk λ (lamda kecil), hamburan Rayleigh besar dan sebaliknya.. Ternyata pada panjang gelombang sekitar 0,85 μm  yaitu panjang gelombang sinar laser Ga A1 As, Hamburan  Rayleigh memberikan loss akibat hamburan sangat kecil dibandingkan dengan loss serat optik multimode. Karena itu serat optik singlemode lebih baik mutunya sebagai media transmisi dibandingkan dengan serat optik multimode.
c. Mikro-bending
Atenuasi lainya adalah atenuasi yang disebabkan mikro-bending yaitu pembengkokan serat optik untuk memenuhi persyaratan ruangan. Namun pembengkokan dapat pula terjadi secara tidak sengaja seperti misalnya serat optik yang mendapat tekanan cukup keras sehingga cahaya yang merambat di dalamnya akan berbelok dari arah transmisi dan hilang. Hal ini tentu saja menyebabkan atenuasi.
d.  Dispersi
Dispersi adalah pelebaran pulsa yang terjadi ketika sinyal merambat melalui sepanjang serat optik. Dispersi akan membatasi lebar pita (bandwidth) dari serat. Dispersi yang terjadi pada serat secara garis besar ada dua yaitu dispersi intermodal dan dispersi intramodal dikenal dengan nama lain dispersi kromatik disebabkan oleh dispersi material dan dispersi wavegiude.


Karakteristik Transmisi

Sifat transmisi informasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Informasi yang akan ditransmisikan berupa data dalam bentuk digital sedangkan bentuk sinyal pembawa carrier yang akan melewati media transmisi serat optik berupa sinyal analog.
  2. Untuk itu diperlukan proses modulasi dan demodulasi yaitu proses yang mengubah data digital ke analog dan juga proses sebaliknya dengan menggunakan sebuah Modem dengan pirantinya.
  3. Dalam hal ini jenis serat optik yang digunakan sebagai media transmisi adalah serat optik multimode graded indeks.

Sistem komunikasi data menggunakan serat optik telah berkembang dengan pesat yang merupakan teknologi maju. Apabila dibandingkan dengan sistem kabel tembaga 2 kawat atau 4 kawat ataupun sistem gelombang radio maka Sistem Komunikasi  Serat Optik (SKSO) mempunyai kelebihan dan kekurangannya, yaitu sebagai berikut:
a. Keuntungan Serat Optik
  1. Mempunyai lebar pita frekuensi (bandwith yang lebar). Frekuensi pembawa optik bekerja pada daerah frekuensi yang tinggi yaitu sekitar 10^13 Hz sampai dengan 10^16 Hz, sehingga informasi yang dibawa akan menjadi banyak.
  2. Redaman sangat rendah dibandingkan dengan kabel yang terbuat dari tembaga, terutama pada frekuensi yang mempunyai panjang gelombang sekitar 1300 nm yaitu 0,2 dB/km.
  3. Kebal terhadap gangguan gelombang elektromagnet. Fiber optik terbuat dari kaca atau plastik yang merupakan isolator, berarti bebas dari interferensi medan magnet, frekuensi radio dan gangguan listrik.
  4. Dapat menyalurkan informasi digital dengan kecepatan tinggi. Kemampuan fiber optik dalam menyalurkan sinyal frekuensi tinggi, sangat cocok untuk pengiriman sinyal digital pada sistem multipleks digital dengan kecepatan beberapa Mbit/s hingga Gbit/s.
  5. Ukuran dan berat fiber optik kecil dan ringan. Diameter inti fiber optik berukuruan micro sehingga pemakaian ruangan lebih ekonomis.
  6.  Tidak mengalirkan arus listrik.  karena bahaanya yang terbuat dari kaca atau plastik sehingga tidak dapat dialiri arus listrik (terhindar dari terjadinya hubungan pendek).
  7. Sistem dapat diandalkan (20 – 30 tahun) dan mudah pemeliharaannya.

b. Kerugian Serat Optik
  1. Konstruksi fiber optik lemah sehingga dalam pemakaiannya diperlukan lapisan penguat sebagai proteksi.
  2. Karakteristik transmisi dapat berubah bila terjadi tekanan dari luar yang berlebihan.
  3. Tidak dapat dialiri arus listrik, sehingga tidak dapat memberikan catuan pada pemasangan repeater.

Countdown ( Pencacah Mundur ) Timer Menggunakan AT89c2051

Sebuah count-down (Pencacah mundur) timer sederhana menggunakan display LED yang mampu mencacah dalam beberapa menit dan detik. Tiga tombol dibawah LED digunakan untuk mengeset menit, detik dan tombol kontrol start/stop. Bila pencacahan telah selesai maka Alarm Buzzer akan berbunyi dan display LED menampilkan angka Nol. Alarm Buzzer akan berhenti berbunyi dengan menekan tombol start/stop. Rangkaian count-down (Pencacah mundur) timer dibangun menggunakan microcontoller keluarga mcs-51 yaitu AT89c2051.

Gambar Rangkaian count-down (Pencacah mundur) timer menggunakan AT89c2051.





Source code.
;@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
;PROGRAM FOR TIMER
;@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
include REG_52.PDF

RB0 EQU 000H ; Select Register Bank 0
RB1 EQU 008H ; Select Register Bank 1 ...poke to PSW to use

;%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
; PORT DECLERATION
;%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
DIS_A EQU P1.5
DIS_B EQU P1.4
DIS_C EQU P1.3
DIS_D EQU P1.1
DIS_E EQU P1.2
DIS_F EQU P1.6
DIS_G EQU P1.7

DIS1 EQU P1.0
DIS2 EQU P3.7
DIS3 EQU P3.5
DIS4 EQU P3.4

START EQU P3.0
STOP EQU P3.1
RESETS EQU P3.2

BUZZER EQU P3.3
DSEG ; This is internal data memory
ORG 20H ; Bit adressable memory

COUNT: DS 1
SPEED: DS 1
VALUE_1: DS 1
VALUE_2: DS 1
VALUE_3: DS 1
VALUE_4: DS 1

NUMB1: DS 1
NUMB2: DS 1
NUMB3: DS 1
NUMB4: DS 1

SEC: DS 1
MIN: DS 1


FINAL: DS 1
FIN: DS 1
TENS: DS 1
STACK DATA 3FH
;%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
CSEG AT 0 ; RESET VECTOR
;---------==========----------==========---------=========---------
; PROCESSOR INTERRUPT AND RESET VECTORS
;---------==========----------==========---------=========---------
ORG 00H ; Reset
JMP MAIN

ORG 000BH ;Timer Interrupt0
JMP REFRESH

;---------==========----------==========---------=========---------
; Main routine. Program execution starts here.
;---------==========----------==========---------=========---------
MAIN:
MOV PSW,#RB0 ; Select register bank 0
MOV SP,STACK
MOV SPEED,#00H
MOV COUNT,#00H
CLR DIS1
CLR DIS2
CLR DIS3
CLR DIS4
MOV TMOD,#01H ;enable timer0 for scanning
MOV TL0,#00H
MOV TH0,#0FDH
SETB ET0
SETB EA
SETB TR0 ;Start the Timer
MOV VALUE_1,#15H
MOV VALUE_2,#15H
MOV VALUE_3,#15H
MOV VALUE_4,#15H
CLR BUZZER
TOP1: SETB START
JB START,$
SETB BUZZER
MOV SEC,#00H
MOV MIN,#00H
TOP:
SETB STOP
MOV R3,#05H ;1 SEC DELAY
REP3: MOV R1,#0BFH
REP2: MOV R2,#0FFH
REP1: JNB STOP,TIM_STOP1
DJNZ R2,REP1
DJNZ R1,REP2
CLR BUZZER
DJNZ R3,REP3
INC SEC
MOV A,MIN
CJNE A,#04H,FGV1
MOV A,SEC
CJNE A,#40,FGV1
SETB BUZZER
CALL DELAY
CLR BUZZER
CALL DELAY
SETB BUZZER
AJMP DOWN1

TIM_STOP1: AJMP TIM_STOP
FGV1: MOV A,MIN
CJNE A,#09H,FGV2
MOV A,SEC
CJNE A,#40,FGV2
SETB BUZZER
CALL DELAY
CLR BUZZER
CALL DELAY
SETB BUZZER
AJMP DOWN1
FGV2:
MOV A,MIN
CJNE A,#14,FGV3
MOV A,SEC
CJNE A,#40,FGV3
SETB BUZZER
CALL DELAY
CLR BUZZER
CALL DELAY
SETB BUZZER
AJMP DOWN1
FGV3:
MOV A,MIN
CJNE A,#19,FGV4
MOV A,SEC
CJNE A,#40,FGV4
SETB BUZZER
CALL DELAY
CLR BUZZER
CALL DELAY
SETB BUZZER
AJMP DOWN1
FGV4:
MOV A,MIN
CJNE A,#24,FGV5
MOV A,SEC
CJNE A,#40,FGV5
SETB BUZZER
CALL DELAY
CLR BUZZER
CALL DELAY
SETB BUZZER
AJMP DOWN1
FGV5:
MOV A,MIN
CJNE A,#29,FGV6
MOV A,SEC
CJNE A,#40,FGV6
SETB BUZZER
CALL DELAY
CLR BUZZER
CALL DELAY
SETB BUZZER
AJMP DOWN1
FGV6:
DOWN1:
MOV A,SEC
CJNE A,#60,DCF1
MOV SEC,#00H
INC MIN
SETB BUZZER
MOV A,MIN
CJNE A,#60,DCF1
MOV MIN,#00H
DCF1: MOV R2,SEC
ACALL HEX2BCD
MOV VALUE_4,R3 ;MOV LSB TO DISPLAY
MOV VALUE_3,R4
MOV R2,MIN
ACALL HEX2BCD
MOV VALUE_2,R3 ;MOV LSB TO DISPLAY
MOV VALUE_1,R4
AJMP TOP

TIM_STOP:
SETB BUZZER
CALL DELAY
CLR BUZZER
JNB STOP,$
CALL DELAY
JB STOP,$
SETB BUZZER
CALL DELAY
CLR BUZZER
MOV SEC,#00H
MOV MIN,#00H
MOV VALUE_1,#15H
MOV VALUE_2,#15H
MOV VALUE_3,#15H
MOV VALUE_4,#15H
AJMP TOP1
;&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
; 7 SEGMENT DISPLAY ROUTINE
;&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
DISP:
MOV R2,SPEED
CJNE R2,#00H,AAS1
CLR DIS_A
CLR DIS_B
CLR DIS_C
CLR DIS_D
CLR DIS_E
CLR DIS_F
SETB DIS_G
RET
AAS1: CJNE R2,#01H,AS2
CLR DIS_B
CLR DIS_C
SETB DIS_A
SETB DIS_D
SETB DIS_E
SETB DIS_F
SETB DIS_G
RET
AS2: CJNE R2,#02H,AS3
CLR DIS_A
CLR DIS_B
CLR DIS_D
CLR DIS_E
CLR DIS_G
SETB DIS_C
SETB DIS_F
RET
AS3: CJNE R2,#03H,AS4
CLR DIS_A
CLR DIS_B
CLR DIS_C
CLR DIS_D
CLR DIS_G
SETB DIS_E
SETB DIS_F
RET
AS4: CJNE R2,#04H,AS5
CLR DIS_B
CLR DIS_C
CLR DIS_F
CLR DIS_G
SETB DIS_A
SETB DIS_D
SETB DIS_E
RET
AS5: CJNE R2,#05H,AS6
CLR DIS_A
CLR DIS_C
CLR DIS_D
CLR DIS_F
CLR DIS_G
SETB DIS_B
SETB DIS_E
RET
AS6: CJNE R2,#06H,AS7
CLR DIS_A
CLR DIS_C
CLR DIS_D
CLR DIS_E
CLR DIS_F
CLR DIS_G
SETB DIS_B
RET
AS7: CJNE R2,#07H,AS8
CLR DIS_A
CLR DIS_B
CLR DIS_C
SETB DIS_D
SETB DIS_E
SETB DIS_F
SETB DIS_G
RET
AS8: CJNE R2,#08H,AS9
CLR DIS_A
CLR DIS_B
CLR DIS_C
CLR DIS_D
CLR DIS_E
CLR DIS_F
CLR DIS_G
RET
AS9: CJNE R2,#09H,AS10
CLR DIS_A
CLR DIS_B
CLR DIS_C
CLR DIS_D
CLR DIS_F
CLR DIS_G
SETB DIS_E
RET
AS10: CJNE R2,#15H,AS11 ;symbol for -
SETB DIS_A
SETB DIS_B
SETB DIS_C
SETB DIS_D
SETB DIS_E
SETB DIS_F
CLR DIS_G
RET
AS11: CJNE R2,#16H,AS12 ;switch off all disp
SETB DIS_A
SETB DIS_B
SETB DIS_C
SETB DIS_D
SETB DIS_E
SETB DIS_F
SETB DIS_G
RET
AS12: MOV SPEED,#00H
AJMP DISP
;**********************************************************
; INTRRUPT ROUTINE TO REFRESH THE DISPLAY
;**********************************************************
REFRESH:
PUSH PSW ; save current registerset
MOV PSW,#RB1
PUSH ACC
INC COUNT
MOV R4,COUNT
QA1: CJNE R4,#01H,QA2
MOV SPEED,VALUE_1
SETB DIS1
CLR DIS2
CLR DIS3
CLR DIS4
CALL DISP
AJMP DOWN
QA2: CJNE R4,#02H,QA3
MOV SPEED,VALUE_2
CLR DIS1
SETB DIS2
CLR DIS3
CLR DIS4
CALL DISP
AJMP DOWN
QA3: CJNE R4,#03H,QA4
MOV SPEED,VALUE_3
CLR DIS1
CLR DIS2
SETB DIS3
CLR DIS4
CALL DISP
AJMP DOWN
QA4: CJNE R4,#04H,QA5
MOV SPEED,VALUE_4
CLR DIS1
CLR DIS2
CLR DIS3
SETB DIS4
CALL DISP
AJMP DOWN
QA5: MOV COUNT,#01H
MOV R4,COUNT
AJMP QA1
DOWN: MOV TL0,#0FFH
MOV TH0,#0F0H
POP ACC
POP PSW
RETI
;**********************************************************
DELAY:
MOV R1,#0FFH
RAP2: MOV R2,#0FFH
RAP1: NOP
DJNZ R2,RAP1
DJNZ R1,RAP2
RET
;**********************************************************
Hex2BCD:
MOV R1,#00H ; MSByte
MOV R3,#00D
MOV R4,#00D
MOV R5,#00D
MOV R6,#00D
MOV R7,#00D
CALL H2B
RET
H2B: MOV B,#10D
MOV A,R2
DIV AB
MOV R3,B ;
MOV B,#10 ; R7,R6,R5,R4,R3
DIV AB
MOV R4,B
MOV R5,A
CJNE R1,#0H,HIGH_BYTE ; CHECK FOR HIGH BYTE
SJMP ENDD
HIGH_BYTE:
MOV A,#6
ADD A,R3
MOV B,#10
DIV AB
MOV R3,B
ADD A,#5
ADD A,R4
MOV B,#10
DIV AB
MOV R4,B
ADD A,#2
ADD A,R5
MOV B,#10
DIV AB
MOV R5,B
CJNE R6,#00D,ADD_IT
SJMP CONTINUE
ADD_IT:
ADD A,R6
CONTINUE:
MOV R6,A
DJNZ R1,HIGH_BYTE
MOV B, #10D
MOV A,R6
DIV AB
MOV R6,B
MOV R7,A
ENDD: RET
END